12 September 2011,

Aku tak tahu harus melakukan apa, disini di kamar kostku dengan penerangan dengan mengandalkan emergency lamp yang hampir meredup aku menulis. Huh, galau… PLN membuatku galau… kenapa harus mati lampu sih? Handphone lowbat, paket internet habis, daripada semakin galau lebih baik menulis.

Backsound Usah lepaskan by Taufik Batisah.

Pilih lagu ini biar semakin galau, penelitian menunjukkan bahwa semakin galau seseorang maka akan semakin kreatif. Ya.. semakin kreatif.

CLINGGGG…. HIDUP LAMPU… !!!! HIDUP LAMPU….

Mati lampunya ternyata cuma sebentar saja. Sekitar 30 menit. ^_^

Ganti backsound jadi You Wouldn’t Answer My Call by 2AM. Lagu ini lebih mellow dari lagu sebelumnya. Hehehehehe, ternyata PLN bukan menjadi penyebab utama kegalauan ini.

Baiklah, kita mulai saja. Mau nulis tentang apa ya? Apa ya? Apa ya? Sejenak pandangan mata tertuju pada dinding dimana tergantung semacam tanda pengenal yang berbentuk seperti kalung yang biasanya kita dapat ketika kita mengikuti seminar-seminar. Mengenai seminar, sudah banyak seminar-seminar yang aku ikuti mulai dari seminar kefarmasian maupun nonkefarmasian. Dan keduanya berbeda jauh (semua orang pun tahu) ^_^.

Gimana kalau saya bahas satu per satu. Let’s check it out..

a. PEMBICARA

  • Pada seminar farmasi, biasanya pembicaranya adalah para akademisi bergelar profesor. Pernah menempuh pendidikan di Universitas ternama baik dalam maupun luar negeri. Biasanya berusia diatas 50 tahun. Penelitian (penelitian saya) menunjukkan bahwa semakin tua seseorang semakin kurang kemampuan humornya. Nah, ini penting.. bayangkan saja seminar dari pagi hingga sore jika tidak disertai homor maka alangkah, sungguh, amat, sangat membosankan sekali bukan?. Itulah yang saya alami. Dalam  satu seminar farmasi biasanya ada 4-5 pembicara dan satu pembicara diberi waktu kurang lebih 30 menit, dan itu terasa amat lama dan membosankan. Jika tidak memiliki rasa humor setidaknya mampu beinteraksi dengan peserta, bukan hanya pada sesi tanya jawab saja tetapi berinteraksi pada seluruh peserta.
  • Pada seminar lain (bukan berhubungan dengan dunia kefarmasian), saya pernah mengikuti seminar Digital Life dari detik.com yang pembicaranya adalah pak Budiono Darsono yang tak lain tak bukan adalah founder detik.com. Usianya sudah cukup tua tapi bukan main energik. Bapak itu kelihatan lebih muda dengan memakai kaos oblong dengan tulisan “Update Banget” dan celana jins. Sepanjang seminar seluruhnya diisi dengan pengetahuan tentang internet dalam kehidupan dan humor-humor cerdas yang mengocok perut. Waktu 2 jam pun tidak terasa. Ayo dunk pak, ngomong lagi… masih kurang, satu harian pun saya mau seminar kayak gini selain nambah pengetahuan, stres pun hilang, pulang penuh dengan rasa kagum. Wow… Saya juga pernah mengikuti seminar dari majalah Cosmopolitan dan dari Kompas, dua-duanya pembicaranya adalah  Fira Basuki. Seminar dari majalah Cosmopolitan dipandu oleh MC Ayu Dewi (waktu itu Ayu Dewi belum terkenal). Materi seminar tentang dunia kerja. Seminarnya sangat menginspirasi dan memberi banyak wawasan. Terus ada seminar dari telkomsel, pembicaranya  Adrie Soebono. Om Adrie dengan semangat yang berapi-api dengan gaya bicara yang lantang dan cepat mampu membius peserta seminar yang terdiri dari ratusan orang di Hotel Arya Duta tersebut. Om Adrie ini lebih garang dari orang Medan. Seminar berakhir dengan semangat baru. Mereka-mereka ini adalah orang-orang luar biasa. Pak Budiono Darsono pernah mengecap pendidikan di UGM namun tidak tamat dan Om Adrie setau saya cuma tamat SMA tapi mereka berbicara seolah-olah mereka tahu banyak hal dan mereka memang begitu.

b. Biaya

  • Seminar kefarmasian hampir tidak ada yang gratis karena sponsornya kurang banyak dan kurang banyak memberi. Satu seminar farmasi biasanya ada kontribusi Rp 120.000 – Rp 200.000, lagipula kontribusi itu buat nutupi makan siang dan coffee break, saya rasa wajar-wajar saja.
  • Nah, ini yang enak. Seminar yang saya ikuti selalu gratis tis tis tis. Udah ketemu artis, gratis lagi. Kurang apa coba?

c. Door Prize

  • Pada seminar farmasi. Selalu ada belasan door prize yang diberikan dengan cara mengundi nomor peserta seminar yang kita dapat. Ini nih yang aku gak suka, karena aku sepertinya tidak ditakdirkan untuk dapat rejeki dari hal-hal seperti itu. Seumur hidupku, sepertinya tidak pernah aku dapat hadiah dari undian. Bahkan untuk undian dengan peluang besar sekalipun, aku tidak dapat juga. Hahahahahha… Terlintas dalam pikiran saya ibu-ibu yang dapat door prize ini tahu gak ya seminar ini bahannya tentang apa? Soalnya kebanyakan peserta seminarnya sepertinya sibuk mengadakan reuni kecil-kecilan dengan kawan-kawan seangkatanya dulu dan tidak memperdulikan pembicara.
  • Ini nih yang menarik, di seminar lain (bukan kefarmasian) hadiah didapat jika kita bisa menjawab pertanyaan dari pembicara ataupun dari sponsor. Lewat cara ini peserta jika ingin dapat hadiah maka haruslah memperhatikan dengan seksama apa yang diseminarkan. Ataupun hadiah bisa didapat kalau kita memiliki rasa percaya diri yang luar biasa. Peserta ditantang untuk menari, ataupun berjalan layaknya model atau gaya-gaya yang lain dengan maksud menambah semarak suasana.

Dari apa yang saya utarakan diatas sepertinya saya hanya memojokkan tentang betapa membosankannya seminar farmasi. Mereka yang membaca artikel ini mungkin menyalahkan saya. Uraian diatas adalah pendapat saya dan tidak menjadi masalah jika ada yang berbeda pendapat. Tidak mesti seminar farmasi harus penuh dengan gelak tawa tapi penting disertai dengan humor-homor supaya tidak membosankan. Seminar farmasi sebagian besar kurang kondusif dikarenakan para peserta sudah mulai boring, tapi kalau dari sejak awal sudah kurang kondusif salah siapa ya?. Sayang sekali seminar berbiaya besar dengan pembicara bertitel penuh tapi peserta seminarnya tidak mendapat apa-apa. Mungkin ada pihak-pihak yang mungkin merasa tersinggung, Ya… gak papa lah ya… Peace.. Salam Perubahan