Saya, Jeni, dan kak Imel. Disuatu sore, saya duduk di depan pintu, Jeni duduk di motornya dan kak Imel berdiri. Banyak yang kami bicarakan dan tiba-tiba topik pembicaraan kami mengarah tentang bakat. Bakat apa? Entah minder, atau memang kenyataan kami sama-sama mengaku tidak punya bakat. “Dari sejak lahir, aku gak tau lah apa bakatku. Memang gak punya bakat aku ini” kata Jeni memulai pembicaraan. Aku dan kak Imel pun kurang lebih mengatakan hal yang sama. Dan kamipun sama-sama tertawa. Seolah-olah tidak perduli dan menganggap tidak punya bakat adalah hal yang biasa. Kami tetap saja tertawa dan hal itu tidak menjadi beban.

Dan aku mulai merenungkan tentang bakat itu. Bakat? Kami bertiga tidak memiliki bakat musik, ya.. mungkin itu yang kami maksud tidak punya bakat. Karena mereka yang punya bakat musik dan nyanyi biasanya lebih cepat dikenal orang, yang bukan golongan itu biasanya hanya menjadi pelengkap saja dalam suatu acara entah apapun acara itu.

Kadang aku berpikir kenapa ada orang disertai bakat yang begitu banyak, bisa nyanyi, bisa main alat musik, bisa ngomong di depan orang banyak. Di sisi lain, ada orang yang hilang ditelan jaman karena tidak punya sesuatu untuk diperlihatkan. Kadang aku juga berpikir, pantaskah aku sebagai manusia menilai dan mengkotak-kotakkan seperti itu.