16 Agustus 2011, malam itu aku mendapat SMS dari Debo. Aku lagi ngapain ya waktu itu? Oh, ya.. lagi nonton drama Korea ‘Thank You’, ceritanya bagus.. bagus lho.. ceritanya tentang seorang anak yang kena HIV AIDS secara tidak sengaja. Trus, si anak mengalami penolakan di masyarakat dan.. Loh, kok jadi OOT (out of topic), kan aku mau cerita tentang liburan. Okeh, back to the topic. Begini isi SMS debo (langsung lihat inbox HP).

“Tman2 sperjuangan. Bsk ada rncana , mw k miki holiday,, tp lum psti coz apri lum tw bs or ga. Klen bs ga?”

Akupun pikir2, aku pengen berburu tandatangan dosen karena jilid lux skripsiku udah selesai. Aku ingin cepat-cepat mengakhiri perjuangan mendapat ijazah ini. Ijazah yang sudah lama aku tunggu-tunggu. Aku lupa ternyata besok hari libur, 17 Agustus. Hahahahhahahahaha… dan akupun mengiyakan untuk ikut jalan2 ke mikie holiday.

17 Agustus, waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, aku masih mendengar lagu-lagu dari 2AM diantaranya Can’t Let You Go even If I Die, Confession of a Friend, You Wouldn’t Accept My Call, LOVE yang bagus dan menyayat hati. Judulnya aja yang Bahasa Inggris, liriknya Korea medok wkwkwkwkw. Aku belum berangkat karena belum ada instruksi untuk berangkat. Pukul 09.15 WIB, Debo SMS untuk menyuruhku pergi duluan karena Watik sendirian di Loket Sutra. Ya udah, aku berangkat dengan menaiki angkot 103 RMC, aku mengecek SMS yang isinya mengatakan kalo kita akan kumpul di Loket Sutra Simpang Pos.  Aku yang salah atau isi SMS ini ya? Perasaan loket Sutra agak lewat dari Simpang Kuala. Karena akupun tidak yakin, ya aku turun saja di Simpang Pos, sambil jalan dan melihat sekitar mencari orang-orang yang berkerumun, biasanya loket agak sedikit ramai dari sekitarnya. Kok gak ketemu ya loketnya? Payah, hal seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi karena ini kali kedua aku ke Brastagi dan menggunakan armada transportasi bis ukuran sedang ini. Lebih baik bertanya, siapa orang yang beruntung itu dan pilihan jatuh pada kakak penjual mie babi, “kak, loket Sutra dimana ya kak?” tanyaku. “Oh, terus aja kak..”, jawab si kakak dengan menunjuk ke arah Simpang Kuala. Jalan jalan jalan jalan, eh ketemu Watik, anak ini kelihatan sumringah sekali melihat tampangku datang seakan-akan dia menemukan seorang penyelamat di tengah kesendiriannya dalam penantian…halah..

Waktu berjalan, Gokman datang. Kami bertiga menunggu dan menunggu dengan ditemani lagu Jamrud, sesekali bernyanyi sekaligus tertawa karena lirik lagunya yang menggelitik, menyindir, dan agak sedikit vulgar. Waktu berjalan lagi (ya.. memang waktu pasti berjalan) tetapi teman-teman yang ditunggu belum juga datang. Menunggu dan menunggu lagi dan akhirnya kawan2ku Aprik, Debo, Lia, dan Sabekh datang. Singkat cerita kami naik bus. Aku duduk di samping supir ditemani Debo. Aku suka duduk di depan,  karena dari dulu aku merasa kalau duduk di samping supir akan cepat sampai ..hehehehe.

Hari itu lebih ramai dari biasanya dimana banyak ditemukan anak-anak sekolah berseragam lengkap berkeliaran di jalan menunggu angkutan setelah mereka selesai upacara bendera. Angkutan penuh karena penumpang jauh lebih banyak dari biasanya. Tidak ada pilihan lain, demi cepat sampai ke rumah berbagai carapun dilakukan termasuk naik ke atap bus. Aku sudah biasa melihat hal ini baik di TV ataupun di sekitarku tapi ini dilakukan oleh anak sekolah. Mereka masih kecil (dan aku sudah besar hehehe), aku serius..maksudku ini sama sekali tidak aman dan membahayakan. Dan supaya tidak ketahuan polisi, mereka di atas ditutup dengan semacam plastik tenda. Tidak ketahuan polisi apanya, polisi tau kok dan polisi cuma senyum manis saja disertai geleng-geleng kepala.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kalo ada polisi jadi begini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kalo gak ada polisi jadi kayak gini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

hati-hati ya dek.. pegangan ya..