Hari ini, hari keempat saya magang Apotek. Saya magang di Apotek Wahyu, Jl. Pinang Baris no.5. Seperti biasa, saya neik angkot RMC (Rahayu Medan Ceria) no. 120 dengan penumpang cuma beberapa orang saja, lambat, dengan volume kendaraan yang padat merayap. Kali ini sift pagi, sepi, bosan, dan gak tau harus ngapain.

Saat itu aku duduk di bangku kayu yang kurasa sengaja dibuat tinggi agar lebih mudah untuk melihat pasien yang datang. Tiba- tiba datang seorang bapak yang sudah berumur kira-kira 60 tahun. Kesan pertama penilaianku tentang Bapak ini adalah aku mengira Bapak ini adalah seorang pengemis atau setidaknya tunawisma. Aku tidak tahu apa yang dibelinya, karena Dina yang melayani Bapak ini. Awalnya aku tidak begitu memperhatikan Bapak ini, alangkah terkejutnya aku ketika melihat kaki dan tangannya yang sepertinya menderita tumor. Bukan sepertinya, tapi ya memang tumor. Pandanganku fokus melihat Bapak ini, otakku penuh analisa dan menimbulkan banyak pertanyaan: Dimana keluarga Bapak ini? mengapa dia dibiarkan bepergian tanpa alas kaki? sampai-sampai tumornya itu membusuk. Mengapa tumornya tidak diobati> kan sudah ada Jamkesmas, Askeskin atau apalah itu.

Sesaat saja Bapak ini berurusan dengan pegawai kami, aku tidak begitu peduli atas apa yang Ia beli.  Ia mengambil tasnya dan memasukkan sebagian uang kembalian ke kotak amal yang ada di Apotek. Aku kaget bercampur kagum. Bahkan untuk bepergian sekalipun Bapak ini tidak menggunakan alas kaki, tapi Ia mampu memberi ditengah kekurangan dan keterbatasannya. Bapak yang semula kukira adalah pengemis hanya sesaat telah mampu memberikan aku begitu banyak pelajaran. Kini tambah lagi satu contoh atas kata-kata bijak yang sering aku dengar, “Don’t Judge the Book by It’s Cover”

Bapak ini telah mengajarkanku akan banyak hal. Bahkan dalam berkelimpahan sekalipun, kita sulit untuk memberi kepada orang lain, apalagi jika kita dalam keadaan kekurangan…yang ada hanyalah keluhan. Pelajaran yang tidak kudapat dalam pendidikan formal selama ini.