“Pak… Agus berangkat ya..”, sapanya lembut.
“Iya nakku… hati-hati kau ya nak, belum ada uang bapak, jadi hari ini jalan kaki lagi kau ya”.

Bukan hal yang luar biasa Agus ke sekolah dengan mengandalkan kaki kurusnya. Berjalan kaki sejauh itu harus dijalani oleh anak kacil berusia 8 tahun itu. Rumahnya di salah satu gang sempit di Jl. Mansyur dan sekolahnya di salah satu SD Negeri di Pasar 2 Padang Bulan. Bukan hal yang mudah, tapi tingginya impian menjadikannya itu indah untuk dijalani.

Kota Medan, kota harapannya, kota dimana ia menggantungkan setiap asa-asa khayalannya. Jl. Mansyur – Pintu I USU – Tembok – Jl.Harmonika – Jl. Gitar – Jl. Mandolin seolah-olah menjadi saksi bisu setiap kikisan-kikisan sepatu bututnya. Setiap kikisan yang terbuang ibarat setiap impian yang terus tercipta.

“Mau sekolah Gus…”, sapa salah seotang tukang becak yang setiap hari mangkal di Tembok.
“Iya Bang”, jawabnya ramah
“Baek-baek kau sekolah ya Gus, biar gak usah kau susah kayak aku ini”, tambahnya.
Sebuah simpul manis merekah di bibirnya menanggapi nasehat abang becak itu.

Hampir pukul 7.00 WIB, lonceng berbunyi. Agus sudah sampai di kelas. Bukan perkara mudah ia mengikuti setiap mata pelajaran yang didapatnya. Harus berulang-ulang kali ia belajar sehingga boleh mengerti. Orang miskin, pekerja keras ditambah nilai plus kepintaran mungkin sering kita dengar di begitu banyak bentuk cerita-cerita karya penulis besar, dan buku-buku autobiografi terkenal lainnya. Namun, Agus hanya punya mimpi untuk hidupnya,hanya punya jiwa pantang menyerah. Hanya itu, hanya itu kawan.

“Nak… ketika mamakmu mengandung kau, tak ada gizi yang dimakannya, mungkin karna itulah kau lambat nangkap ya, tak usah lah kau berkecil hati, yang penting kau punya kemauan. Bapakmu ini selalu dukung kau Nak”, nasehat ayahnya.

Agus selalu masuk peringkat 5 besar, peringkat ke-3 adalah prestasi terbaiknya. Anak kecil seperti dia adalah anak yang terpinggirkan, anak yang kau pikir tidak akan membangun kota Medan ini, anak yang mungkin hilang ditelan jaman.
Tetapi, semangat itu membuahkan hasil yang manis. Berkat kerasnya, berbekal ilmu yang diperolehnya sewaktu belajar di STM, Agus bisa mendirikan bengkel tanpa kios di pinggir jalan. Bengkel yang suatu saat pasti akan maju, Agus memang bukan kaum intelek yang berujung dengan pengangguran.
Bersama niat dan semangat, tidak harus dengan jalan mulus, namun biarlah semua berakhir bagus.

Medan, 9 Juli 2010
Terinpirasi dari anak-anak SD yang setiap hari saya jumpai ketika berangkat ke kampus.