Hari sudah hampir sore ketika koak-koak yang terlontar dari mulut kami saling bersahut-sahutan untuk membahas menu makan jam boa puasa.

“yang pasti ada ayam goreng ya woy….”
“iya..iya..bumbu kalasan aja……. hmmmmmmm..enak la tu..”

Kagum dalam hatiku bergumam, waaaaaa…. aku saja belum pernah makan di Ayam Kalasan, tapi nanti kami akan membuat menu ayam goreng kalasan. Sungguh hebat teman-temanku ini. TAK KUSANGKA.
Tiba-tiba salah seorang dari kami bertanya,”ayam kalasan itu apa woy??”

“Halah… ayam yang pake bumbu dari lengkuas itu laaa….”, temanku yang lain menjawab.

Sontak akupun menurunkan standartku untuk memuji keahlian mereka, sambil bergumam… hmmmmm.. mamak awak pun sejak aku lahir sering kali pun bikin ayam bumbu kayak itu, agak-agak diparutlah lengkuas itu, dicampurlah dengan bumbu-bumbu lain……

“trus..trus…kita pake es buah aja woy..”, saran Deni.
Salah satu kelebihan Deni yang sampai sekarang kuakui, dia penuh dengan saran-saran walaupun akhirnya banyak yang kami batalkan dengan berbagai pertimbangan.

“Haaa…. betul itu… es buah aja woy”, kataku.
Ya, aku memang tipe-tipe orang yang cepat setuju akan adanya ide-ide baru entah itu ide konyol hingga ide cemerlang. Tapi kawan, taukah kau aku terkadang mencap diriku sebagai orang yang plin-plan atas semua ide-ide yang aku bilang bagus itu. Seringkali daya kritisku tidak muncul.
Tiba-tiba aku teringat akan teman SMA-ku, yang bernama Fajri Asmara (Dibacanya gak note ini ya woy, jadi friend awak pulak di FB). Dia membawa es melon dengan irisan mentimun ketika ulang tahun wali kelas kami. Sungguh, rasanya enak, irisan mentimunnya ibarat kerupuk cakar ayam, halus-halus namun mampu mencakar naluriku sebagai manusia untuk setidaknya segan jika telah nambah 3x.

“Woy, gimana kalo sirup melon tapi pake irisan mentimun?”, pintaku
“Iya…iya, aku juga pernahdengan minuman itu…enak tu”, seru salah seorang dari antara kami.

Terkadang aku berpikir, mengapa tidak setiap saat ide cemerlang keluar dari pikiran ini. Mungkin kebiasaanku makan indomie waktu kecil atau kerupuk miskin gizi, atau apalah itu

Dan tibalah waktunya marhobas. Timun sudah dibeli, sudah dikupas namun belum juga diparut (maklumlah, parutan bukan perabotan yang wajib dipunyai oleh anak kost seperti kami). Setelah beberapa lama, akhirnyayang ditunggu-tunggu datang…..parutan.

Sungguh hasil parutannya berbeda dengan yang pernah kurasa. Bukannya menghina kawan, tapi…taukah kau parutan mentimunnya lebuh mirip jus. Ah…aku memang sedang menertawakan diriku sendiri, menertawakan sebagian dari hasil kerjaku. IRONIS MEMANG.

Dan akhirnya setelah melalui pergumulan batin yang panjang dengan hasrat yang menggelora ingin rasanya aku mencicip minuman itu. Memang terkadang proses itu menjadi tidak penting dikala kau dapati hasilnya sungguh memuaskan kawan. Ya…aku yakin dengan statement-ku ini. Seacara estetika memang kurang sedap dipandang mata, biji-biji mentimun yang tak sanggup mempertahankan statusnya oleh deruan gaya gerak parutan seolah-olah mengisyaratkan bahwa tampilan memang tak seelok yang kurasa dulu. Sulit rasanya untukku yang belasan tahun hidup dengan bangsa Melayu dimana citarasa dan penampilan harus kau junjung tinggi, karena itulah yang mereka punya. Tapi untuk ukuran bangsa Batak ini merupakan kemajuan peradaban mereka.

(Apa yang aku Tulis, adalah apa yang aku ingat…jadi kalau kurang akurat, agak maklumlah la woy… hahahahahha)